Semua orang nantinya pasti akan menikah. Pernikahan memang menjadi hal yang penting dalam kehidupan. Di Indonesia, setiap wilayah memiliki tradisi pernikahan yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan adanya banyak suku,agama,dan budaya yang berbeda-beda sehingga melahirkan budaya yang berbeda pula.

Maka, prosesi pernikahan yang sakral ini, haruslah dilakukan dengan cara terbaik, sebab sebisa mungkin hanya terjadi satu sekali seumur hidup manusia. Maka dari itu yuk simak beberapa tradisi pernikahan berikut ini

  1. Tradisi Suku Tidung

Tradisi ini ada di Suku Tidung Kalimantan. Tradisi dilarang buang air ini dilakukan oleh kedua calon mempelai. Sebelum pernikahan berlangsung, calon pengantin dilarang buang air selama 3 hari 3 malam atau 72 jam. Untuk mengantisipasi hal itu, mereka pun harus rela mengurangi makan dan minumnya setiap hari.

Secara bergantian keluarga akan mengawasi calon pengantin agar tidak pergi ke kamar mandi. Tradisi ini dilakukan sesuai kepercayaan adat Suku Tidung karena mereka yakin nantinya agar mereka akan dikaruniai anak maupun rezeki yang berlimpah dan hidup bahagia.

  1. Tradisi Nyantri

Dalam budaya Kraton Jogja, sang mempelai pria harus berada di daerah kediaman pengantin wanita, dua atau tiga hari menjelang hari pernikahan. Tradisi ini disebut dengan tradisi nyantri. Sebab zaman dahulu biasanya antar pengantin belum begitu mengenal satu sama lain, bahkan bisa jadi hari pertama mereka bertemu adalah di hari pernikahan mereka.

Hal inilah yang sering memancing peristiwa pengantin laki-laki yang kabur dari pernikahan. Maka supaya sang pria tak kabur, dimintalah ia untuk nyantri dulu di kediaman pengantin wanita. Bukan berarti pengantin laki-laki tinggal di rumah pengantin wanita, tapi biasanya pengantin laki-laki dititipkan di rumah saudara atau tetangga.

  1. Tradisi Malam Bainai

Adat dan budaya alam Minangkabau memang unik. Prosesi Malam Bainai yang menjadi perayaan malam terakhir calon pengantin wanita ini sangat populer. Malam bainai adalah prosesi peletakan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon anak daro.

Bainai merupakan ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita. Selain itu, dibeberapa daerah di Minangkabau calon mempelai wanita juga digiring untuk acara mandi-mandi pada siang atau sore hari sebelum malam bainai itu, atau diwakili dengan para sesepuh dan kedua orang tua akan memercikkan air harum tujuh kembang kepada calon anak daro, setelah itu barulah kuku-kuku calon mempelai wanita tadi diberi inai.

  1. Tradisi Kawin Colong

Kawin Colong merupakan adat pernikahan Suku Osing, salah satu suku yang ada di beberapa kecamatan di Banyuwangi Jawa Timur. Tradisi ini terjadi karena saat ada ketidaksetujuan orang tua calon mempelai perempuan terhadap rencana pernikahan kedua calon memepelai.

Karena tidak mendapat persetujuan dari orang tua, maka kedua mempelai yang saling mencintai tersebut sepakat untuk melakukan Kawin Colong yang diartikan sebagai bentuk kesiapan sang laki-laki. Tradisi Kawin Colong diawali dengan si perempuan dicolong atau diambil tanpa izin orang tua ke rumah laki-laki.

Sebelum waktu yang sudah ditentukan, pihak laki-laki mengutus orang untuk menjadi Colok, orang yang dituakan dan dihormati yang bertugas membujuk orang tua perempuan agar memberikan restu untuk menikahkan keduanya. Sudah bisa dipastikan orang tua perempuan akan menyetujui pernikahan keduanya saat Colok datang menemui orang tua perempuan.

  1. Tradisi Kromojati

Di Bohol, Gunung Kidul, mereka punya tradisi unik yang dicanangkan oleh pemerintah setempat semenjak tahun 2007. Peraturannya adalah: bagi setiap pemuda yang ingin meminang wanita dari daerah  tersebut wajib bagi laki-laki tersebut untuk menanam minimal 5 bibit pohon jati untuk ditanam di daerah Gunung Kidul.

Ribuan bibit pohon jati yang ditanam oleh para calon pengantin kini telah menyebar pada lahan kritis daerah setempat seluas 2 hektar yang tersebar di dukuh Wuru dan Gamping. Tak hanya menikah, tapi juga peduli akan lingkungan.

Itu tadi beberapa tradisi pernikahan yang unik. Apa anda salah satunya yang melaksanakan tradisi tradisi tersebut?